Seiring dengan tekhnologi canggih yang kian hari kian terus merangkak maju,membuat kita harus bisa menyikapi dengan hati yang sabar dan menerima apa adanya.Jika kita tidak bisa mengikuti hal duniawi ini siap-siap akan tergiling zaman modernisasi,ideologi,sosiologi,panatisme sebagai taruhannya.Saya telah mencoba merasakan hal itu di tengah tengah tugas keseharian.
Saya tentu ingin bertanya apakah persatuan,silaturrahim dan kegotong royongan serta sosial telah terabaikan ? tentu YES.Panca Silatinggal selogan semata.Kini menguji skiil seseorang tak perlu lagi harus berhadapan langsung dengan yang bersangkutan,tak perlu lagi bukti hasil karya nyatanya di tengah-tengah kesehariannya cukup lewat internet online.Dunia maya telah menjadi trend masa kini.Namun wujud sesungguhnya Walahualam.Tak perlu kita jauh mencari contoh yang ada,cukup Manajemen PLN yang saya di dalamnya sebagai insan PLN,saya ingin PLN itu jaya oleh tenaga ahli PLN itu sendiri,modal sendiri bukan modal orang lain bukan tenaga outsoursing tetapi manajemen tidak memandang hal itu yang di pandang hanyalah kesanggupannya berinteraksi lewat dunia maya.padahal tugas tugas kita semua berhadapan langsung dengan publik berhadapan lansung pokok masalah .Bukan teori yang di analisa di atas meja,labor.
Menguji SDM dengan bahan ujian yang berdasarkan teori bukanlah suatu bentuk keprofesionalisme seseorang tersebut,melainkan kesemuanya semata.Jika hal itu dilakukan kesenjangan sosial perbedaan ideologi hal yang tak dapat di pungkiri,maaf saya masih kuno,saya masih mau bedasar kan Panca Sila dan UUD '45 selaku warga negara yang baik.Persatuan Indonesia,Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmad dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,serta berkeadilan sosial yang merata,UUD 45 Pasal 33 jelas menyatakan bahwa bumi air laut dan udara di kuasai oleh negara dan di pergunakan sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.Disisi lain selaku umat Islam saya masih meyakini Tuhan adalah Esa ,Al Quran dan Hadist adalah pedomanku untuk menuju ke alam akhirat karena di dunia ini hanyalah sandiwara semata,kemajuan apa yang ia kejar ? kesejahteraan apa yang ia cari sementara yang lain terinjak injak oleh kemunafikan dan tipu muslihat.
Menguji SDM dengan bahan ujian yang berdasarkan teori bukanlah suatu bentuk keprofesionalisme seseorang tersebut,melainkan kesemuanya semata.Jika hal itu dilakukan kesenjangan sosial perbedaan ideologi hal yang tak dapat di pungkiri,maaf saya masih kuno,saya masih mau bedasar kan Panca Sila dan UUD '45 selaku warga negara yang baik.Persatuan Indonesia,Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmad dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,serta berkeadilan sosial yang merata,UUD 45 Pasal 33 jelas menyatakan bahwa bumi air laut dan udara di kuasai oleh negara dan di pergunakan sepenuhnya untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.Disisi lain selaku umat Islam saya masih meyakini Tuhan adalah Esa ,Al Quran dan Hadist adalah pedomanku untuk menuju ke alam akhirat karena di dunia ini hanyalah sandiwara semata,kemajuan apa yang ia kejar ? kesejahteraan apa yang ia cari sementara yang lain terinjak injak oleh kemunafikan dan tipu muslihat.
Upah ataupun gaji pegawai PLN yang ada di pelosok kini tidak lagi bisa diketahui berapa yang ia terima ,berapa yang dipotong manajemen dalam hal kebijakan manajemen.Apakah gaji sudah keluar atau belum uang apa yang masuk,kapan masuknya,kini telah online dimana -mana itu adalah suatu pogram debirokratisasi toh kenyataannya semakin berbelit belit.
Dibidang restrukturisasi dan diiringi dengan debirokratisasi menunjuk tugas/jabatan karyawan tidak lagi harus pakai SK(Surat Keputusan) cukup ngentri/ngedit data di internet dan intranet online yang disentralisasikan dari pusat bahwa si A jabatannya adalah ini dan itu.Hal dilapangan tempat ia bertugas tidak seperti apa yang terbayangkan oleh Sistim Informasi Manajemen On Line.Cuti bersama yang sering dilakukan oleh manajemen tidaklah berlaku buat semua karyawan,khusus yang bekerja di bidang tekhnis,pengawas lapangan tidak akan ada cuti buatnya.
Hal hal tersebut diatas tentu ada mekanismenya yang jelas tetapi bagaimana menyikapinya ? Karyawan yang juga membentuk SP(Serikat Pekerja) nyaris tak bisa berbuat banyak menyikapi kebijakan Manajemen tersebut lantaran anggota SP jugak sebagai karyawan.Secara umum inilah Tujuan Utama para pengambil kebijakan yang ia hanya ngikut kepada konglomerat,ngikut ke Bank peminjam modal yakni IMF,ADB dan bank dunia lainnya sebagian dari Neoliberalisme,Kapitalisme.
Salam penulis
Helpius
Helpius

0 komentar:
Posting Komentar